Di tengah gempuran teknologi artificial intelligence (AI) yang mampu menghasilkan gambar visual memukau hanya dalam hitungan detik, seorang siswi dari SMAN 1 Lembang berdiri teguh memegang kuasnya. Baginya, secanggih apa pun teknologi hari ini, ia tidak akan pernah bisa membunuh karya seni orisinal.
Siswi itu adalah Kirana Artistan Maheswari. Remaja kelas XII yang akrab disapa Kiki ini meyakini bahwa proses kreatif manusia memiliki satu elemen tak kasatmata yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma mesin mana pun, yaitu jiwa.
"Memang AI bisa membuat banyak karya dengan instan, mulai dari seni lukis hingga musik. Namun, banyak orang pada akhirnya kurang menyukai karya AI karena pesannya tidak tersampaikan. Seni itu pada intinya berkomunikasi dari hati ke hati, sementara AI sama sekali tidak punya hati," ungkap Kiki mantap.
Sikap Kiki yang menolak tunduk pada "arus instan" ini dibuktikannya lewat dedikasi waktu yang luar biasa dalam berkarya. Jika mesin AI hanya butuh satu baris kalimat dan waktu beberapa detik untuk memproduksi gambar, Kiki rela mencurahkan tenaga berminggu-minggu demi merampungkan satu kanvas.
Salah satu buktinya tertuang dalam karya surealis bertajuk "Sangkuriang Kaberangan". Interpretasi visual tentang kemarahan Sangkuriang ini memakan waktu pengerjaan hingga satu bulan penuh dengan sapuan teknik blocking akrilik murni.
Ada pula lukisan Senjakala Yudha, pertemuan imajinatif antara Dewi Srikandi dan Dewi Athena yang ia kerjakan dengan ketelitian tingkat tinggi menggunakan teknik outline dan drawing pen.
Bagi siswi berusia 17 tahun ini, proses panjang dan melelahkan inilah yang mengalirkan "nyawa" ke dalam karya, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh mesin.
Keteguhan Kiki dalam melakoni proses berkesenian manual ini tidak datang secara tiba-tiba. Meski lahir dari ayah seorang seniman yang juga dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) UPI, Suryadi, Kiki kecil justru lebih menggandrungi seni tari. Darah seni rupanya baru benar-benar bergejolak saat ia duduk di bangku SMP.
Berawal dari keisengannya mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) cabang ilustrasi digital, Kiki secara mengejutkan langsung menyabet juara 1. Kemenangan itu menjadi titik balik yang menumbuhkan kepercayaan dirinya. Hingga kini, ia tercatat sebagai langganan juara FLS2N, termasuk menyabet juara 3 tingkat Provinsi Jawa Barat pada tahun lalu.
Kiki menyadari, bakat tanpa wadah yang tepat akan sulit berkembang. Sehingga, ia merasa bersyukur karena ekosistem pendidikan di SMAN 1 Lembang memberikan ruang yang luas bagi minatnya.
"Dulu, waktu SMP saya lebih banyak berlatih sendiri. Tapi, di SMA ini sangat berbeda, ekstrakurikulernya sangat mendukung. Mulai dari disediakan alat-alat melukis sampai diajarkan teknik-teknik baru yang belum saya ketahui, semuanya saya dapatkan di sini. Sekolah benar-benar menunjang kreativitas kami," ungkapnya.
Menariknya, visi Kiki ke depan tidak berhenti pada ambisi personal untuk menjadi pelukis ternama atau menembus pameran internasional. Di tengah maraknya anak muda yang mendamba popularitas instan, anak kedua dari tiga bersaudari ini justru memilih jalan pengabdian. Selepas SMA, ia bertekad melanjutkan studi ke jurusan pendidikan seni rupa.
"Saya sangat suka mengajar dan membagikan ketertarikan saya kepada orang lain. Jadi, daripada sekadar menjadi seniman yang membuat karya untuk diri sendiri, saya ingin membagikan ilmu tersebut kepada generasi selanjutnya," tutur gadis yang juga hobi bermain gitar ini.
Di penghujung perbincangan, Kiki menitipkan pesan bagi generasi muda yang masih ragu mengekspresikan diri atau memulai karya mereka sendiri di tengah bayang-bayang kesempurnaan dunia digital.
"Jangan menunggu sempurna untuk memulai. Masa depan sudah ada di depan mata. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?" ucapnya.
Dukungan penuh terhadap proses kreatif ini juga ditegaskan Kepala SMAN 1 Lembang, Asep Kurniawan.
Sebagai penikmat seni, Asep sangat mengapresiasi imajinasi dan komposisi warna dalam karya-karya Kiki. Menurutnya, tema legenda Sasakala Sunda tersebut sangat beririsan dengan identitas SMAN 1 Lembang yang memang berlokasi tepat di kaki Gunung Tangkuban Parahu.
Di tengah disrupsi teknologi yang kini mulai bergeser ke arah superintelligence, Asep memastikan, pihak sekolah tetap optimistis dan berkomitmen penuh untuk mewadahi kesenian konvensional.
Ia sepakat dengan Kiki bahwa kemudahan instan dari teknologi kecerdasan buatan tidak akan pernah bisa menggeser kedalaman makna dari sebuah karya seni yang dikerjakan secara manual.
"Seni konvensional itu memiliki nilai spiritual dan emosional yang sangat penting untuk pembentukan karakter anak. Dari setiap goresan tangannya, imajinasinya hingga helaan napasnya saat melukis, ada nilai-nilai kehidupan yang tumbuh. Itulah mengapa kami di SMAN 1 Lembang berkomitmen terus memfasilitasinya," pungkasnya.(h.dsdik.jbr)

0 Komentar